Keragaman Konteks Pemulihan Pembelajaran masa Pandemi Covid-19

Pemulihan Pembelajaran Masa Pandemi dengan Keragaman Konteks

Madrasah Digital. Pada kajian Akademik Kurikulum untuk Pemulihan Pembelajaran terdapat pembahasan tentang rancangan implementasi kurikulum merdeka belajar. Hal ini menunjukkan perlunya strategi implementasi yang akan mensukseskan penerapan kurikulum alternatif. Pada tulisan ini akan membahas Keragaman Konteks Pemulihan Pembelajaran masa Pandemi covid-19.


  • Baca juga:

Pengantar Pemulihan Pembelajaran masa Pandemi

Bagian A Bab 5 menjelaskan tentang pentingnya memahami konteks dimana kurikulum diimplementasikan. Bagian ini akan difokuskan pada konteks makro yang mendorong adanya kebijakan pemulihan pembelajaran, yaitu pandemi COVID-19 serta dampaknya pada pembelajaran. Bab 2 telah menjelaskan dampak pandemi COVID-19 yang memperparah krisis pembelajaran di Indonesia.

Baca juga: Krisis Pembelajaran Masa Pandemi

Akibatnya, kesiapan satuan pendidikan untuk mengimplementasikan perubahan pun berbeda-beda. Pada bagian ini disampaikan tinjauan pustaka tentang bagaimana COVID 19 memberikan dampak yang berbeda-beda, sehingga tantangan yang dihadapi satuan pendidikan dan pendidik dalam mengatasi ketertinggalan pembelajaran (learning loss) pun berbeda-beda.

1. Dampak Penutupan Sekolah

Adanya penutupan sekolah pada masa pandemi COVID-19 membuat permasalahan pendidikan menjadi semakin kompleks dan berdampak pada semua jenjang pendidikan di seluruh dunia.

Pada jenjang dasar dan menengah terjadi kecenderungan bahwa tidak banyak anak mendapat manfaat dari pembelajaran secara daring karena terkendala berbagai macam hal.

Sementara itu pada jenjang yang lebih tinggi meskipun pembelajaran dapat dilakukan melalui platform digital dan rekaman video, beberapa universitas juga menunda pembelajaran karena kurangnya infrastruktur teknologi informasi bagi siswa maupun guru (United Nations, 2020).

Pendidikan vokasi pun tidak luput dari berbagai tantangan seperti rendahnya tingkat digitalisasi dan kelemahan struktural (disrupsi pada tempat kerja mempersulit pelaksanaan skema magang, pembelajaran berbasis kerja dan respon terhadap kebutuhan pasar).

Para peneliti di Kanada memperkirakan bahwa kesenjangan keterampilan dapat meningkat lebih dari 30% sebagai dampak dari pembelajaran di masa pandemi (Haeck & Lefebvre, 2020).

Di sisi lain, penelitian juga menunjukkan bahwa masa penutupan sekolah di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Kanada ditambah dengan masa libur musim panas (masa libur mencapai 2 hingga 3 bulan) telah menyebabkan rata-rata ketertinggalan pembelajaran sekitar 10% dari standar deviasi. Dan dampak negatif ini semakin besar bagi siswa dengan latar belakang sosial ekonomi rendah (Hanushek & Woessman, 2020).

Dengan demikian, terdapat perbedaan dampak pandemi COVID-19 terhadap pembelajaran untuk siswa di jenjang dan di konteks yang berbeda-beda.

2. Strategi Pembelajaran masa Pandemi

Hanushek dan Woessman (2020) melaporkan bahwa salah satu bentuk adaptasi yang dilakukan pada masa pandemi COVID-19 adalah pembelajaran yang lebih personal, dan hal ini perlu terus diterapkan dalam institusi pendidikan.

Menurut mereka, beberapa negara telah melaksanakan pendekatan pembelajaran dengan konsep penguasaan (mastery learning) ini, yaitu siswa akan mengerjakan modul pembelajaran tertentu sampai mereka dapat menunjukkan bahwa mereka telah menguasai sepenuhnya modul tersebut. Jika mereka telah menguasai suatu modul maka mereka akan melanjutkan ke modul lainnya, terlepas dari apa yang dilakukan siswa lain di kelas mereka. Sehingga siswa di kelas yang sama dapat memiliki tujuan pembelajaran yang berbeda.

Contoh adaptasi lainnya di Inggris, untuk tahun 2021 mereka memprioritaskan pengetahuan inti (baik disiplin maupun substantif) dan literasi, sehingga pemerintah melakukan pengurangan pada beberapa konten (Department for Education, 2021).

Sedangkan di Indonesia, keterbatasan selama pandemi mendorong guru melakukan penyederhanaan aktivitas belajar (86,4%) dan mengurangi cakupan materi yang diajarkan (45,1%). Selanjutnya, guru-guru juga sudah mulai mampu mengintegrasikan pembelajaran kontekstual dengan mengaitkan pada materi COVID-19 pada masing-masing pelajaran (59,2%) (Zamjani et al., 2020).

Kondisi Pembelajaran masa pandemi di Indonesia

Di negara Indonesia yang besar ini, COVID-19 memberikan variasi dampak pada wilayah yang berbeda dan juga pada kelompok SES (status ekonomi sosial) yang berbeda.

1. Hasil Survei Kemendikbudristek

Hasil survei pelaksanaan belajar dari rumah (BDR) yang dilakukan Kemendikbudristek pada tahun 2020 menunjukkan bahwa secara umum 80,7% guru melakukan BDR dengan memberikan tugas berupa soal kepada siswa. Untuk wilayah 3T praktik tersebut dilakukan oleh hampir semua guru (90,4%) sedangkan untuk wilayah non 3T sekitar 76,5% (Zamjani et al., 2020).

Kemudian untuk komunikasi antara guru dan siswa selama BDR didominasi oleh penggunaan media sosial yaitu berkisar 92,7% untuk wilayah non 3T dan 72,4% untuk wilayah 3T. Perbedaan angka yang cukup besar ini disebabkan oleh rendahnya akses internet dan perangkat digital yang memadai untuk wilayah yang tertinggal. Meskipun demikian sebagian guru di wilayah 3T tetap memastikan komunikasi dua arah contohnya yaitu guru mengunjungi siswanya satu persatu yang mana praktik ini mencapai 8%.

Tidak dapat dimungkiri pelaksanaan BDR sangat bervariasi akibat:

  • kesiapan guru (kemampuan mengajar, metode pembelajaran),
  • kesiapan sekolah (dukungan material dan nonmaterial)
  • serta kesiapan siswa (fasilitas, dukungan orang tua, lingkungan rumah) berbeda-beda dan variasinya cukup besar di negara Indonesia.

2. Survei SMERU

Temuan dari studi SMERU menunjukkan bahwa pada masa BDR untuk jenjang sekolah dasar di pulau Jawa proporsi guru yang tidak melakukan pengajaran sebesar 30%, sedangkan di luar pulau Jawa dan wilayah perdesaan proporsinya mencapai 50% (Alifia et al., 2020). Sehingga sebagian siswa akhirnya tidak belajar sama sekali selama BDR dan ada pula yang tetap belajar namun belum optimal karena kapasitas orang tua dalam mendampingi BDR pun berbeda-beda.

Akibatnya anak yang tinggal di wilayah perkotaan dan memiliki orang tua berpendidikan tinggi umumnya memiliki pembagian waktu yang lebih seimbang antara belajar dan bermain. Sebaliknya untuk anak yang memiliki orang tua berpenghasilan rendah dan tinggal di wilayah perdesaan cenderung menghabiskan waktu untuk bermain dan waktu belajarnya hampir tidak ada.

Oleh karena adanya perbedaan kondisi tersebut, kesiapan satuan pendidikan untuk mengimplementasikan suatu kebijakan baru juga tidak dapat diasumsikan sama. Hal ini perlu menjadi perhatian dalam perancangan strategi implementasi Kurikulum Merdeka.


Sumber: Kajian Akademik Kurikulum untuk Pemulihan Pembelajaran, 2022

Materi Rancangan Implementasi Kurikulum Merdeka

Loading