Pemanfaatan Asesmen dalam Kurikulum Merdeka 2024

KurikulumMerdeka2024. Naskah Akademik Kurikulum Merdeka pada karakteristik pembelajaran kurikulum merdeka membahas tentang Pemanfaatan Asesmen dalam Kurikulum Merdeka 2024. Pemanfaatan ini sebagai Karakteristik pertama.

Memanfaatkan penilaian atau asesmen awal, proses, dan akhir untuk memahami kebutuhan belajar dan perkembangan proses belajar peserta didik

Penilaian atau asesmen merupakan cara untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam memahami atau menguasai kompetensi tertentu yang menjadi tujuan atau luaran pembelajaran (learning outcomes).

Kurikulum Merdeka menekankan bahwa penilaian tidak hanya ditekankan dalam proses pembelajaran, apalagi hanya menekankan penilaian akhir, melainkan juga menekankan pentingnya penilaian di awal, yakni sebelum proses pembelajaran dilakukan.

1. Kemampuan Awal dengan Asesmen Awal

Arah Penilaian atau asesmen awal untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik terkait dengan materi yang akan dipelajari, termasuk juga mengetahui kesiapan mental peserta didik, latar sosial, kultural, dan ekonomi peserta didik.

2. Perkembangan Belajar di Asesmen Proses

Sementara itu, arah penilaian selama proses pembelajaran adalah untuk mengetahui perkembangan belajar peserta didik, dan

3. Akumulasi Pengalaman Belajar

Arah penilaian akhir merupakan titik akhir dalam satu periode pembelajaran untuk melihat akumulasi dari pengalaman belajar peserta didik secara komprehensif.

Beragam teknik penilaian dapat digunakan dan bahkan dikembangkan sendiri oleh para guru di kelas.

Namun yang jelas asesmen atau penilaian tersebut didesain sedemikian rupa oleh guru dengan pertimbangan utama bahwa teknik asesmen yang dikembangkan dapat dengan tepat memantau ketercapaian hasil belajar peserta didik.

Dengan demikian, penilaian harus selaras (align) dengan tujuan pembelajaran atau luaran pembelajaran.

Bahkan dalam salah satu pendekatan pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang familier disebut dengan backward design (Gonzalez, 2020; McTighe & Wiggins, 1999; Richards, 2013), penilaian adalah komponen pertama yang harus ditentukan oleh guru setelah guru menentukan tujuan atau luaran pembelajaran.

Dengan demikian, jangan sampai muncul asesmen yang tidak selaras dengan tujuan pembelajaran.

2. Contoh Keselarasan Asesmen dengan Tujuan Pembelajaran

Misal, tujuan pembelajaran mengarahkan agar siswa dapat menulis naskah pidato, namun teknik asesmennya hanya berupa pilihan ganda dan isian ringkas saja, tentu teknik asesmen tersebut tidak menunjang tujuan pembelajaran.

Jenis-jenis penilaian otentik penting untuk digunakan dalam konteks ini, antara lain melalui penilaian produk, projek, unjuk kerja, dan portofolio.

3. Pentingnya Asesmen Awal

Dengan demikian, teknik asesmen yang digunakan atau kembangkan oleh guru harus betul-betul menghasilkan data dan/ atau informasi yang berguna dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.

Dalam hal ini asesmen awal sangat penting sebagai pertimbangan guru dalam

  • menentukan tujuan pembelajaran,
  • asesmen berikutnya—yakni asesmen formatif dan sumatif—yang akan digunakan,
  • strategi atau metode pembelajaran,
  • termasuk juga media dan lingkungan belajar pendukung pembelajaran.

Asesmen Formatif Sebagai Bahan Feedback

Berikutnya, yang tidak kalah penting adalah penilaian formatif yang berorientasi memberikan umpan balik (feedback) bagi anak didik atas capaian belajarnya.

Tak hanya itu, hasil belajar dari penilaian formatif juga menjadi bahan bagi guru untuk

  • memodifikasi rencana pembelajaran dan
  • aktivitas belajar peserta didik menjadi lebih baik (Lambert dan Lines, 2000).

Sumber: Buku Kajian Akademik Kurikulum Merdeka 2024

Loading