Daftar Isi
IKM di Sekolah Penggerak
Evaluasi implementasi kurikulum bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang proses penerapan Kurikulum Merdeka pada tingkat satuan pendidikan yang terpilih dalam Program Sekolah Penggerak. Informasi tersebut diperlukan untuk menganalisis apakah satuan pendidikan tertentu sudah dapat mempraktikkan kurikulum di satuan pendidikannya. Evaluasi implementasi kurikulum juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi kepala sekolah dan guru terhadap kurikulum yang mereka jalankan tersebut. Dalam Program Sekolah Penggerak, evaluasi implementasi kurikulum ini dilakukan dengan tiga cara yaitu, survei cepat, wawancara singkat, dan studi etnografi.
1. Metode
Survei dan Wawancara Singkat
Metode evaluasi implementasi melalui survei (survei populasi) dilakukan di 2.499 satuan pendidikan. Total responden guru yang mengisi survei adalah 8.262 responden sementara total kepala sekolah yang mengisi survei sebanyak 1.713. Berdasarkan karakteristik wilayahnya tingkat keterisian non-tertinggal adalah 96,2% dan kawasan tertinggal adalah 3,8% atau sudah proporsional jika dibandingkan dengan sebaran populasi pelaksana program Sekolah Penggerak. Responden berasal dari unsur guru dan kepala sekolah dilatih selama 74 JP untuk menggunakan Kurikulum Merdeka dalam program sekolah penggerak. Sesuai dengan intervensi programnya, responden berasal dari guru kelas I, IV, VII, dan X. Program Sekolah Penggerak memberikan intervensi pada kelas- kelas tersebut dengan tujuan agar siswa dapat diukur dalam kurun waktu tiga tahun masa studi di sekolah yang sama. Survei dilakukan secara daring (online) dengan menyebarkan secara langsung kepada responden di setiap grup Program Sekolah Penggerak dan melalui kanal-kanal yang dimiliki oleh direktorat teknis seperti Direktorat SD, Direktorat SMP, Direktorat SMA, Direktorat PAUD dan Direktorat PMPK. Dalam studi ini juga dilakukan triangulasi data melalui wawancara singkat yang dilakukan di 10 kabupaten kota yaitu di tiga wilayah tertinggal yaitu di Kab. Keerom, Kab. Supiori, dan Kab Sumba Timur, dan tujuh wilayah non tertinggal yaitu: Kota Metro, Kab Nagan Raya, Kota Sorong, Kab. Bolaang Mongondow, Kab Penajam Paser Utara, Kab. Banyu Asin, dan Kab Deli Serdang.
Etnografi
Studi etnografi dilakukan dalam evaluasi proses dan konteks perubahan Program Sekolah Penggerak. Evaluasi ini ditujukan untuk melihat proses perubahan yang terjadi pada tingkat satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran sebagai akibat serta konteks yang melatarbelakangi perubahan tersebut.
Evaluasi proses dan konteks perubahan dilakukan pada sepuluh kota/kabupaten peserta Program Sekolah Penggerak. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada beberapa pertimbangan, antara lain: (1) keterwakilan daerah tertinggal dan non-tertinggal; (2) keterwakilan daerah Indonesia barat, tengah, dan timur; (3) keterwakilan daerah urban dan rural; serta (4) jumlah dan keragaman jenjang satuan pendidikan peserta Program Sekolah Penggerak di kabupaten/kota tersebut. Studi etnografi ini dilakukan di Kab. Asahan (SMPN 1 Bandar Pasir Mandoge), Kab. Agam (SLB Baso), Kab. Lampung (TKN 3 Krui dan SDN 19 Krui), Kota Bandung (SMA IT Miftahul Khoir dan SLBN Cicendo), Kota Gresik (SD NU Almustaniroh), Kab. Sintang (SDN 23 Menyumbung), Kota Ternate (SMP 1 Kota Ternate), Kab Manggarai Timur (SMPN 4 Poco Ranaka, SMAN 3 Poco Ranaka), Kota Bitung (PAUD Imanuel Manembo- nembo), Lombok Timur (SMA 1 Sikur).
2. Temuan Studi
Perencanaan Pembelajaran
Kurikulum Merdeka berupaya memberikan layanan pendidikan yang berpihak pada siswa. Untuk itu, dalam setiap aktivitasnya kurikulum berupaya memberikan ruang kepada guru untuk berefleksi melalui berbagai hal agar kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa. Aktivitas refleksi harus terjadi dalam setiap tahapan dari mulai perencanaan sampai dengan asesmen.
Pada tahap persiapan, pembelajaran dalam kurikulum merdeka dimulai dengan perencanaan-perencanaan yang dilakukan oleh satuan pendidikan sebelum menyelenggarakan pembelajaran. Dalam kurikulum merdeka, perencanaan pembelajaran dituangkan dalam empat aspek penting. Pertama pengumpulan data karakteristik satuan pendidikan yang akan digunakan dalam penyusunan modul-modul selanjutnya. Kedua, Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOS). Ketiga, penyusunan modul ajar (Silabus). Keempat, penyusuan modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Sebelum merencanakan pembelajaran, sangat penting bagi kepala sekolah dan guru, untuk memahami karakteristik satuan pendidikan sehingga dapat memberikan layanan pendidikan yang kontekstual, berpihak kepada siswa, serta memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam proses belajar. Untuk itu aktivitas asesmen karakteristik satuan pendidikan menjadi penting untuk membuka kesadaran bahwa pada latar belakang siswa yang berbeda memerlukan layanan yang berbeda. Dalam studi yang dilakukan oleh OECD latar belakang siswa memberikan pengaruh yang besar terhadap motivasi belajar siswa yang pada akhirnya akan berdampak pada hasil belajar siswa (OECD, 2008). Untuk itu, memahami karakteristik satuan pendidikan dari mulai kondisi geografi, budaya, sosial dan ekonomi menjadi langkah penting dalam membuka wawasan kepada guru untuk lebih mengenal siswanya.
Dalam Program Sekolah Penggerak, hampir seluruh sekolah (94%) baik dari wilayah tertinggal maupun non-tertinggal sudah melakukan asesmen karakteristik satuan pendidikan. Angka ini cukup signifikan mengingat di Indonesia asesmen diagnostik belum menjadi acuan sebagian besar guru di Indonesia dalam menentukan pembelajaran. (World Bank, 2021).
Gambar 4.15. Persentase Guru di Sekolah Penggerak yang Melakukan Asesmen Diagnostik Berdasarkan Kategori Wilayah
Sumber: PSKP, 2021
Dari hasil wawancara yang dilakukan, proses memahami karakteristik satuan pendidikan masih dalam proses adaptasi yang memberikan harapan besar. Dimana, meskipun guru belum memahami sepenuhnya terkait kurikulum tetapi mereka sudah mulai menyesuaikan penyelenggaraan pendidikan dari hasil asesmen karakteristik satuan pendidikan.
Kendala yang dihadapi sekolah ketika menyusun Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan adalah kami bersama komite pembelajaran masih belum terlalu memahami tentang kurikulum operasional itu sendiri. Akan tetapi tetap berusaha untuk membuatnya dengan mengikuti contoh yang ada sambil menyesuaikan keadaan yang sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan yang kami bina saat ini (TK Mekar Kuncup Pituala, Kolaka Timur).
Setelah sekolah mengumpulkan asesmen karakteristik peserta didik, diharapkan satuan pendidikan juga membuat analisis terkait latar belakang peserta didik dari berbagai aspek. Hasil analisis ini diharapkan digunakan dalam menyusun kurikulum operasional satuan pendidikan yang kontekstual dan relevan bagi siswa untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang pada akhirnya akan menghasilkan profil pelajar pancasila. Untuk itu, langkah selanjutnya setelah menyusun karakteristik satuan pendidikan yaitu menyusun Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOS).
Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOS) memuat seluruh perencanaan proses belajar yang akan diselenggarakan oleh satuan pendidikan agar satuan pendidikan memiliki pendoman pembelajaran. Komponen dalam KOS diharapkan dapat menjadi dokumen acuan refleksi bagi semua unsur pendidikan di satuan pendidikan sehingga satuan pendidikan dapat tetap menyesuaikan dinamika perubahan dan kebutuhan siswa.
Gambar 4.16. Persentase Satuan Pendidikan yang Telah Menyusun
Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan berdasarkan Jenjang (n= 1.594 Kepala Sekolah)
Sumber: PSKP, 2021
Data di atas menunjukan bahwa proses adaptasi dalam perencanaan kurikulum secara umum telah dilakukan terutama pada jenjang SD, SMP dan SMA juga SLB yang sebagian besar telah menetapkan dokumen KOS pada dinas pendidikan. Secara nasional, total satuan pendidikan yang telah menyelesaikan dokumen baik yang sudah ditetapkan maupun yang belum ditetapkan mencapai 79,9%. Sementara yang masih dalam proses penyusunan berjumlah 19,76% dan sisanya sebanyak 0,3% sama sekali belum menyusun KOS. Dilihat dari jenjangnya, PAUD merupakan jenjang terbanyak yang masih melakukan proses penyusunan. Tingginya satuan pendidikan yang sudah menyusun dokumen KOS menunjukan bahwa adaptasi dalam perencanaan pembelajaran sudah terjadi meskipun belum sempurna.
Proses penyusunan KOS di tingkat satuan pendidikan cukup beragam. Meskipun sejumlah kepala sekolah dan guru telah mendapatkan pelatihan terkait Kurikulum Merdeka, namun di sejumlah daerah penyusunan KOS dilakukan dengan beragam strategi. Di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tengah penyusunan KOS diawali dengan bimtek secara virtual yang diinisiasi oleh P4TK. Bimtek tersebut ditujukan guna mendapatkan informasi yang lebih detail sehingga sekolah lebih percaya diri dalam menyusun kurikulum operasional. Namun demikian, di sejumlah daerah lain penyusunan KOS tanpa melibatkan P4TK melainkan melalui diskusi di lingkup internal yang diinisiasi langsung oleh kepala sekolah dan guru komite pembelajaran.
Sekolah kami sudah menyusun kurikulum operasional yang sudah disahkan dan ditandatangani oleh kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar. Dalam penyusunan kurikulum operasional kami melibatkan semua guru tiap tingkatan kelas utamanya guru yang yang pernah mengikuti Diklat komite pembelajaran. Dalam kurikulum operasional kami mengambil acuan dari capaian pembelajaran yang telah ditetapkan oleh kementerian pendidikan, serta memuat karakteristik siswa yang ada pada sekolah kami utamanya pada mata pelajaran muatan lokal. Dalam penyusunan kurikulum operasional kami mengadakan rapat dengan guru-guru di tiap tingkatan kelas dan kami juga mengundang pengawas pembina, untuk memberikan saran dan masukan untuk terhadap kurikulum operasional. Dalam kurikulum operasional kami memuat beberapa hal seperti karakteristik siswa, visi dan misi sekolah beban belajar serta capaian pembelajaran dan modul ajar yang sementara di susun oleh guru-guru. (UPT SDN 221 Inpres Labbumesang, Sulawesi Selatan)
Selama penyusunan KOS, sekolah mulai menerapkan prinsip demokrasi deliberatif yang melibatkan seluruh unsur dari mulai orang tua, guru, komite sekolah dan dinas pendidikan (pengawas). Pelibatan seluruh unsur ini memungkinkan sekolah menyusun rencana pembelajaran tidak hanya berdasarkan persepsi atau harapan yang mungkin timbul dari kepala sekolah atau sebagian guru saja tetapi memungkinkan pembelajaran yang mengakomodir seluruh kalangan di satuan pendidikan. Dari hasil survei yang dilakukan, 99% kepala sekolah terlibat dalam penyusunan KOS, sebanyak 98% satuan pendidikan melibatkan guru, dan 91% melibatkan komite sekolah, sebanyak 86% melibatkan pengawas.
Sementara hanya 57% satuan pendidikan yang melibatkan orang tua dan 35% satuan pendidikan yang melibatkan siswa dalam proses penyusunan KOS.
Gambar 4.17. Persentase Guru Cara Menyusun Rencana Pembelajaran (n= 8.262)
Sumber: PSKP, 2021
Persiapan implementasi Kurikulum Merdeka juga terlihat dari cara guru menyusun modul ajar. Sebagian besar guru melakukan proses adaptasi dengan mengadopsi modul dari Kemendikbudristek kemudian disesuaikan dengan konteks lokalnya. Hanya sedikit guru yang mengadopsi keseluruhan contoh modul ajar untuk diterapkan di sekolah masing- masing. Hal yang menarik adalah sebagian guru mulai berproses, mencoba mengasah kreativitas dan nalar kritisnya dengan mencoba menyusun modul ajar sendiri. Pada jenjang Dasmen, guru yang menyusun modul ajar sendiri berada pada kisaran angka 15% sementara pada PAUD dan SLB lebih tinggi yaitu 21,99% dan 29,09%. Dari hasil wawancara, guru-guru PAUD dan SLB melakukan banyak improvisasi berdasarkan kebutuhan dan masukan dari orang tua siswa. Hal ini juga tampak dari hasil survei keterlibatan orang tua pada jenjang PAUD keterlibatan orang tua mencapai 77,46% sementara pada jenjang SLB sebanyak 64,29%.
Studi ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar guru-guru memanfaatkan hasil asesmen karakteristik siswa sebagai pertimbangan utama dalam penyusunan modul ajar. Selain hal tersebut, pertimbangan guru dalam menyusun pembelajaran dihasilkan dari diskusi dengan berbagai guru, mempelajari contoh-contoh yang diberikan dari platform guru berbagi, dan sedikit diantaranya memperoleh inspirasi penyusunan modul pembelajaran dari RPP sebelumnya.
Gambar 4.18. Persentase Satuan Pendidikan yang Mengimplementasikan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (n= 1.594)
Sumber: PSKP, 2021
Sebagian besar sekolah juga telah mulai mempersiapkan pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dalam kurun waktu semester terakhir, sebagian besar satuan pendidikan sudah memiliki tim projek pengembangan. Namun demikian, baru sedikit sekolah yang telah mengembangkan modul projek. Di SLB misalnya, total sekolah yang sudah memiliki tim projek sebanyak 84%, sementara sekolah yang sudah menyusun projek baru sekitar 54%.
Implementasi Pembelajaran
Salah satu fase penting dalam proses belajar mengajar adalah pengorganisasian pembelajaran. Saat ini sekolah memiliki cara-cara yang beragam dalam mengimplementasikan pengorganisasian pembelajaran. Sebagian besar memang masih melakukan pengorganisasian pembelajaran berdasarkan mata pelajaran, naum cara-cara kombinasi dan kolaborasi antar-mata pelajaran sudah mulai banyak dilakukan. Pengorganisasian pembelajaran di beberapa sekolah didasarkan oleh hasil refleksi guru atas kemampuannya agar materi yang disampaikan dapat dipahami oleh siswa. Keputusan terkait pengorganisasian pembelajaran merupakan hasil strategi guru untuk menerapkan konsep dalam bidang studi yang akan diajarkan kepada siswa.
Gambar 4.19. Presentase Kepala Sekolah Janjang Dasmen terkait Pilihan dalam Melakukan Pendekatan Pengorganisasian Pembelajaran di Sekolah (n=1.594) Sumber: PSKP, 2021
Dalam menerapkan metode belajar, guru sudah mulai melakukan metode yang lebih fleksibel. Cara-cara ini sangat berdampak pada terciptanya suasana kelas yang menyenangkan. Menurut hasil studi yang dilakukan oleh Reigeluth dan Merill (Munawaroh, 2017) cara guru mengajar sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. Dalam studi tersebut menyebutkan metode belajar yang menciptakan proses belajar yang menyenangkan secara tidak langsung mempengaruhi hasil belajar siswa sehingga menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna. Hal ini sejalan dengan studi etnografi yang dilakukan dalam program sekolah penggerak:
Sikap siswa dalam pembelajaran tergantung pada metode yang digunakan oleh guru. Siswa terlihat bersemangat ketika pembelajaran menggunakan proyektor untuk menyajikan materi dan melakukan pembelajaran di luar kelas dibanding di dalam kelas (Observasi Kelas Guru Fitri, 11/09/2021). Ketika menggunakan metode ceramah, siswa bagian depan semangat dalam mendengarkan, namun siswa yang duduk di bagian belakang terlihat bosan, bermain dan bersenda gurau (Observasi Kelas Guru Idris, 19/09/2021). Interaksi antar sesama siswa dalam pembelajaran baik, dalam metode kelompok siswa berdiskusi satu sama lain, namun ada juga yang memilih mengerjakan tugas secara individu meskipun sedang bekerja dalam kelompok. Ketika mengerjakan tugas yang sifatnya individu untuk mengetahui pemahaman siswa pada materi tertentu, maka siswa mengerjakan soal secara mandiri. Dalam pelaksanaan PSP ini, siswa terlihat tertarik dengan bahan ajar PSP yang menampilkan gambar yang menarik. Cara ini tampak efektif dalam mendorong antusiasme mereka untuk berpikir kritis mengenai gambar yang ada di bahan ajar tersebut (Wawancara Guru Fitri, 20/09/2021). (PSKP, 2021).
Selain melalui metode yang fleksibel suasana yang menyenangkan juga tampak pada penerapan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). P5 merupakan aktivitas pembelajaran yang bermakna untuk mewujudkan enam dimensi profil pelajar pancasila. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh sebagian besar sekolah. Sekolah biasanya memilih tema berdasarkan pada keinginan siswa dan potensi wilayahnya. Misalnya di PAUD Imanuel Manembo-nembo, P5 dilakukan dengan cara membuat abon ikan karena kota Bitung memiliki potensi ikan yang berlimpah. Hal ini juga menjadikan sekolah lebih mandiri dalam hal pendanaan (PSKP, 2021). Berbeda dengan PAUD Imanuel Manembo-nembo, di SMAN 1 Sikur, P5 memiliki program yang disebut ‘SI ASIK SMANSIK (Pengolahan Sampah Holistik SMAN 1 Sikur). Kegiatan ini dilakukan dengan mengolah sampah organik menjadi pupuk. Setelah menjadi pupuk, siswa melakukan proses pemanfaatan pupuk dengan melakukan penanaman di dalam pot. Proses pemanfaatan tersebut dilaksanakan di sebuah tempat khusus bernama ‘Green House’ yakni tempat pembudidayaan tanaman. Setelah pemanfaatan, siswa diarahkan untuk mengemas hasil produk dengan membuat desain penjualan berbasis komputer. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara guru IPA, IPS, IT dan Bahasa Indonesia.
Gambar 4.20. Persentase Sekolah Yang Sudah Mengimplementasikan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Berdasarkan Jenjan dan Status Wilayah (n= 1.713)
Sumber: PSKP, 2021
Pembelajaran yang berpihak pada murid juga ditandai dengan bagaimana guru menerapkan assessment for learning, yaitu proses penilaian siswa yang digunakan sebagai acuan pembelajaran. Sebelum melakukan pembelajaran, diharapkan guru melakukan asesmen diagnostik atau pra-penilaian pada peserta didik. Asesmen diagnostik dapat membantu guru dalam memahami pengetahuan dan keterampilan siswa sebelum memulai pembelajaran. Asesmen diagnostik biasanya disebut assessment for learning karena tujuan utama dari asesmen ini akan dijadikan acuan dan tujuan pembelajaran bagi guru.
Gambar 4.21. Persentase Guru yang Melakukan Asesmen Diagnostik Berdasarkan Jenjang dan Status Wilayah (n=8.262)
Sumber: PSKP, 2021
Pada sekolah penggerak hampir seluruh guru sudah menggunakan asesmen diagnostik. Kondisi ini merata di seluruh jenjang baik di kawasan tertinggal maupun non tertinggal. Secara nasional hanya 2,72% guru yang belum menggunakan asesmen diagnostik untuk pembelajaran. Pada dekade sebelumnya asesmen diagnostik tidak terlalu populer di kalangan guru di Indonesia, padahal hal ini cukup penting untuk menentukan arah pembelajaran. Penggunaan asesmen diagnostik secara masif menunjukan adanya perubahan ke arah yang lebih positif. Guru akan semakin memahami kebutuhan belajar siswa.
Dalam studi etnografi, asesmen diagnostik dilakukan baik dengan cara sederhana maupun cara-cara yang lebih kompleks. Cara asesmen diagnostik yang relatif sederhana dilakukan di SMAN 1 Sikur. Guru bertanya secara lisan kepada peserta didik, kemudian guru mengelompokan murid berdasarkan kemampuan dan cara belajarnya. Dalam proses belajar guru berkeliling pada setiap kelompok untuk menyesuaikan. Sementara cara yang lebih rumit dilakukan oleh SLB Cicendo. (lihat box). Saat ini satuan pendidikan baru beradaptasi untuk menerapkan konsep assessment for learning di semester pertama, tentu saja hasilnya belum terlihat signifikan. Namun jika hal ini menjadi budaya baru, di sejumlah negara assessment for learning telah teruji membantu siswa - terutama yang memiliki nilai rendah - untuk meningkatkan hasil belajarnya secara signifikan (Cambridge asesmen for education, 2021). Idealnya asemen formatif dan sumatif juga menjadi bahan refleksi bagi guru sehingga guru memiliki target dan penyesuain berbeda tergantung kepada kebutuhan siswanya. Adaptasi ini tentu tidak dapat serta merta menjadi kebiasaan baru tetapi perlu pembiasaan dalam waktu yang lama agar guru dapat lebih memaknai manfaat assessment for learning untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Praktik Baik Asesmen Diagnostik SLBN Cicendo
SLBN Cicendo merupakan sekolah luar biasa yang berada di kota Bandung. Sekolah berupaya menerapkan prinsip pembelajaran yang berfokus dan berorientasi pada kebutuhan siswa secara holistik terutama dalam mempersiapkan pembelajaran yang tepat untuk peserta didik berdasarkan hambatan yang dimiliki. Proses layanan pendidikan untuk anak di SLB dimulai dari penyelenggaraan asesmen yang komprehensif dan tidak terdapat di sekolah umum, meliputi asesmen perkembangan dan asesmen akademik. Asesmen perkembangan mencakup aspek kognitif, motorik, emosi sosial, komunikasi, serta riwayat ketunaan. Asesmen akademik meliputi kemampuan dalam beradaptasi dengan materi pembelajaran. Selanjutnya, sekolah melakukan tes Bera dan audiogram untuk mengetahui ambang batas kemampuan pendengaran anak kerjasama dengan Bandung Hearing Aid. Selain itu juga tes psikologi yang dilaksanakan atas kerjasama sekolah dengan Lembaga Psikologi. Keragaman siswa direspon dengan pelaksanaan asesmen yang komprehensif agar didapatkan informasi yang utuh, sehingga perancangan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak. Berdasarkan hasil asesmen tersebut, maka lahirlah program pembelajaran individual dimana guru mengembangkan pembelajaran berfokus kepada kebutuhan, hambatan, potensi, dan kemampuan siswa. Setelah didapatkan informasi yang lengkap tentang kondisi anak, guru merumuskan program dan aplikasi kurikulum yang tepat untuk anak dan menempatkan anak sesuai mental age dan kemampuannya.
Dampak positif di lingkungan sekolah juga turut memberikan persepsi yang positif pada kurikulum yang digunakan secara terbatas. Sejumlah guru mengaku bahwa kurikulum memberikan nuansa baru untuk meningkatkan kolaborasi antara sesama guru. Selain itu guru juga merasa bahwa kurikulum yang dilakukan sangat berpijak pada peserta didik dan merangsang kreativitas dan keterampilan bernalar kritis. Dalam studi etnografi yang dilakukan oleh PSKP (2021), pelaksanaan kurikulum sekolah penggerak terutama dalam Projek Pengutaan Profil Pelajar Pancasila, memberikan nuansa yang lebih positif. Dalam berbagai mata pelajaran P5 mampu meningkatkan antusiasme guru dan peserta didik dalam pembelajaran. Selain itu kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok dan tidak hanya di ruang kelas juga menjadi kebiasaan baru yang semakin menguat di sekolah (PSKP, 2021).
Gambar 4.22. Persepsi Guru terhadap Program Sekolah Penggerak (n=8.262)
Sumber: PSKP, 2021
Selain berbagai capaian di atas, terdapat sejumlah hambatan yang masih menjadi kendala sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum. Pemahaman yang belum utuh menjadi bottle neck dalam menyelenggarakan pembelajaran. Meskipun sudah dilatih sebelumnya guru sering kali bingung apakah yang telah diterapkan sudah sesuai dengan harapan kurikulum atau belum. Hal ini tidak heran karena selama lebih dari tujuh dasawarsa guru tidak diberikan kebebasan dalam implementasi pembelajaran melainkan menjadi sangat bergantung kepada aturan-aturan yang sangat ketat (Pratiwi, Solihin dkk, 2019). Selain pemahaman yang belum utuh, pembelajaran dengan Tatap Muka Terbatas (PTMT) menjadi hambatan khususnya di wilayah non tertinggal. Guru kesulitan mengimplementasikan pembelajaran bermakna di luar ruang kelas dengan alokasi waktu yang minim dan tingginya kekhawatiran akan COVID-19. Sehingga pembelajaran juga dirasakan guru kurang optimal. Di sisi lain, pada kawasan tertinggal kurangnya sarpras masih menjadi kendala.
Dalam hasil wawancara kami, guru kesulitan dalam menyelesaikan berbagai modul karena ketiadaan listrik dan internet. Terbatasnya ruang kelas yang aman juga menjadi kendala dalam pembelajaran masih dirasakan di wilayah tertinggal.
Gambar 4.23. Grafik Hambatan Implementasi Kurikulum (n=1.713)
Sumber: PSKP, 2021
Agar pemahaman terhadap kurikulum lebih utuh, sebagian guru baik di wilayah tertinggal maupun non-tertinggal mengharapkan adanya pendampingan yang cukup intensif dari pelatih ahli. Hal ini cukup penting untuk memberikan fasilitator pada guru dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menyelenggarakan kurikulum yang berpihak kepada murid. Selain itu perangkat ajar dan dukungan orang tua juga menjadi salah satu yang dibutuhkan oleh sekolah untuk memudahkan mereka mengimplementasikan pembelajaran.
Gambar 4.24. Grafik Dukungan Yang dibutuhkan Satuan Pendidikan (n=1.713)
Sumber: PSKP, 2021
Praktik Adptasi Implementasi Kurikulum Kawasan Tertinggal SMP N 4 Poco Ranaka, Kab. Manggarai Timur, NTT
SMP N 4 PocoRanaka berada di kawasan tertinggal yang rawan dengan ancaman bencana longsor. Sekolah ini terletak di Desa Watu Lanur, Kampung Adat Kedel, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur. Letaknya yang berada di lereng perbukitan membuat lokasi gedung-gedung di sekolah ini tersebar dan tidak merata. SMP 4 Poco Ranakan memiliki sejumlah ruang kelas memprihatinkan, seperti plafon yang bolong serta meja dan kursi yang terbatas. Kondisi perpustakaan sebagai penunjang pembelajaran ternyata tidak jauh berbeda. Buku tidak tertata rapi karena keterbatasan rak buku. Selain itu, laboratorium tidak berfungsi karena tidak adanya perawatan. Instalasi listrik juga baru ada belum lama ini. Sejak sekolah terpilih menjadi sekolah Penggerak, kepala sekolah merasa bersyukur dan menjadikan cambuk untuk meningkatkan layanan sekolah. Kepala sekolah merangkul semua guru untuk bisa maju bersama-sama. Guru-guru juga merespon dengan positif.
Mulanya guru mengeluhkan perubahan menuju Sekolah Penggerak. Mereka tampak kebingungan dengan implementasi modul ajar dan bagaimana menyiasati program digitalisasi sekolah. Namun proses adaptasi itu mengalami kemajuan. Sejak menjadi sekolah penggerak, para guru di SMPN 4 Poco Ranaka menjadi terbiasa hal-hal baru yang ditawarkan oleh program, pembelajaran yang lebih fleksibel dan media ajar yang lebih beragam proses kegiatan belajar mengajar dalam kurikulum PSP dianggap lebih menarik. Metode diskusi dan belajar di luar ruang kelas juga sering menjadi metode yang digunakan guru. Dalam prosesnya, siswa menjadi lebih antusias dan merasa lebih terlatih berpikir kritis dan berani mengemukakan pendapat dalam menanggapi permasalahan yang dihadirkan oleh guru untuk tugas kelompok.
Hal yang paling menarik dalam kurikulum ini adalah pembelajaran berbasis projek. Projek Penguatasn Profil Pancasila yang pertama dipilih adalah kunjungan ke rumah adat Manggarai. Gagasan tersebut muncul karena dorongan sejumlah faktor yang pertama adalah karena kedekatan masyarakat manggarai dengan tokoh adat setempat yang kedua adalah dorongan melestarikan budaya setempat pada generasi muda sehingga menjadi pribadi yang bangga dengan identitas budayanya. Dua faktor tersebut akhirnya menjadi pertimbangan bersama dalam rapat guru saat menentukan tema P5. Projek pertama ini dilakukan melalui kolaborasi sejumlah guru PKn, guru Bahasa Indonesia, guru IPS, dan guru Seni Budaya. Tokoh adat dan masyarakat menyambut gembira gagasan tersebut, hal ini terlihat dari antusias masyarakat dan tokoh adat yang menjadi fasilitator untuk mengajarkan adat kepada siswa. Dalam prosesnya,siswa diminta untuk datang ke rumah adat kemudian tokoh adat akan menjelaskan terkait benda pusaka ataupun falsafah adat manggarai dan siswa diminta menuliskan kembali dengan bahasa Indonesia dan guru akan melakukan proses tanya jawab setelahnya. Selama projek dilakukan. siswa terlihat sangat antusias dalam belajar. Antusisme ini mendorong satuan untuk terus berkreasi menciptakan projek yang baru setiap sebulan. Semangat tersebut terlihat dalam diskusi dalam refleksi oleh guru sepulang sekolah. Dalam salah satu keputusan yang telah diambil, diputuskan target projek berikutnya yaitu: pada bulan Oktober akan dilakukan Projek Bulan Bahasa dan untuk bulan November, di bidang kewirausahaan yang bertemakan Bazaar Rakyat. (Studi Etnografi, PSKP, 2021)